BREAKING NEWS
Isu Sertifikasi Damkar Berbayar Dipastikan Tidak Benar | Ratusan Taruna Akpol Turun ke Aceh Tamiang, Polri Dorong Akselerasi Pemulihan Pascabencana | Waketum LAHAM RI Akram Pasau dan Ketua DPW Gorontalo Janes Komenaung Minta DPD Tidak Mendukung Perusahaan | Patroli Pantera Presisi Polres Bitung Hadir di Tengah Masyarakat, Jaga Kota Tetap Aman dan Nyaman | Polsek Singkil Klarifikasi Pengaduan Warga yang Viral di Media Sosial

Desa Lotta Simpan Warisan Sejarah Tuanku Imam Bonjol

krimsustimes.online
SULUT | Desa Lotta di Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, menjadi lokasi bersejarah nasional sebagai tempat peristirahatan terakhir Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol. Di wilayah ini berdiri kompleks makam yang dikelola Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara sebagai situs wisata sejarah dan religi. Keberadaan makam tersebut menjadi penanda fase akhir perjalanan salah satu tokoh penting perlawanan Nusantara pada abad ke-19.

Tuanku Imam Bonjol yang bernama asli Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin lahir di Tanjung Bungo, Sumatera Barat, pada 1774. Ia dikenal sebagai ulama dan pemimpin dalam gerakan Kaum Paderi di wilayah Minangkabau. Dalam catatan sejarah, ia berperan besar dalam Perang Padri, sebuah konflik yang kemudian berkembang menjadi perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda di Sumatera Barat pada awal hingga pertengahan abad ke-19.

Setelah masa perlawanan tersebut berakhir, Tuanku Imam Bonjol ditangkap oleh pemerintah kolonial dan menjalani masa pengasingan di beberapa tempat sebelum dipindahkan ke wilayah Minahasa. Ia menghabiskan sisa hidupnya di pengasingan hingga wafat pada 6 November 1854. Identitas dan riwayat singkatnya tercantum pada nisan di kompleks makam yang kini menjadi rujukan sejarah dan tujuan ziarah,

Bangunan makam menampilkan arsitektur dengan sentuhan bentuk rumah khas Minangkabau sebagai simbol keterkaitan dengan daerah asalnya. Kompleks ini dilengkapi fasilitas penunjang dan papan informasi untuk membantu pengunjung memahami latar belakang sejarah tokoh tersebut. Situs ini dimanfaatkan sebagai sarana edukasi, penelitian sejarah, serta kunjungan wisata budaya.

Di area yang berjarak sekitar 65 meter menuruni anak tangga dari kompleks utama, terdapat bangunan kecil yang difungsikan sebagai tempat ibadah di dekat aliran sungai. Di dalamnya tersimpan sebuah batu yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai tempat Tuanku Imam Bonjol beribadah semasa pengasingan. Peninggalan tersebut dijaga dan dihormati sebagai bagian dari nilai sejarah dan tradisi lokal.

Riwayat Tuanku Imam Bonjol di Desa Lotta juga berkaitan dengan keberadaan pengawal setianya yang dikenal dengan nama Apolos. Berdasarkan penuturan masyarakat setempat, Apolos kemudian menetap di wilayah tersebut dan menikah dengan perempuan Minahasa bermarga Parengkuan. Keturunan keluarga ini masih tinggal di sekitar kawasan makam dan menjadi bagian dari mata rantai sejarah yang memperlihatkan pertemuan budaya Minangkabau dan Minahasa dalam satu ruang warisan nasional. {RED}
Baca Juga
أحدث أقدم
);
f t P
GULIR UNTUK MELANJUTAKAN MELIHAT BERITA
KRIMSUSTIMES
MEDIA CYBER NASIONAL